Showing posts with label Pemasaran. Show all posts
Showing posts with label Pemasaran. Show all posts

Monday, November 22, 2010

Six Sigma Untuk Proses Pemasaran

Alhamdulillah bisa posting lagi di blog saya, sebenernya saya pengen sih posting lebih sering ya minimal satu minggu sekali lah tapi berhubung ada kesibukan, sok sibuk tepatnya :) jadi se bisa nya aja deh hehe.. ok deh langsung aja ke benang merah hehe.. seperti janji saya pada postingan sebelumnya mengenai Six Sigma, yaitu saya akan membahas mengenai aplikasi Six Sigma untuk salah satu fungsi organisasi di perusahaan, tapi karena saya suka pemasaran maka saya pilih di fungsi pemasaran aja deh. Jadi seperti yang di sebutkan sebelumnya bahwa Six Sigma itu bisa diterapkan secara keseluruhan di perusahaan atau biasa di sebut Enterprise Six Sigma atau bisa juga di terapkan di salah satu fungsi perusahaan. Biasanya sih di terapkan pada proses produksi atau di terapkan pada fungsi produksi atau operasi, tapi biar unik saya coba tulis bagaimana menerapkan Six Sigma pada proses pemasaran.
Untuk dapat menyesuaikan Six Sigma terhadap pemasaran, kita harus mulai dengan melihat secara keseluruhan cara kerja bagian pemasaran. Kita dapat melihat bahwa para pemasar profesional jarang sekali menggolongkan pekerjaan mereka terhadap pekerjaan yang berbasis proses atau orientasi terhadap proses, tetapi sering digambarkan sebagai proyek atau berbasis aktivitas. Namun, American Marketing Association (AMA) mendefinisikan marketing sebagai serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyampaikan nilai kepada pelanggan, dan mengelola hubungan dengan pelanggan agar bisa memberikan keuntungan terhadap organisasi para stakeholders. Oleh karena itu, fungsi pemasaran harus memainkan peran kunci dalam mengelola beberapa koneksi penting antara pelanggan dan elemen kritis perusahaan, termasuk menghubungkan dengan pelanggan untuk produk, penyediaan layanan dan akuntabilitas keuangan (Christine Moorman dan Ronald Karat, 1999 : 57).


Para marketing profesional ingin menghindari tekanan kreativitas oleh peralatan dan struktur. Proses kerja sentris mungkin awalnya tampak lambat, rutin dan memberatkan. Selain itu, para pemasar mungkin berpikir bahwa analisis statistik dapat mengurangi spontanitas dan inovasi. Namun berdasarkan beberapa pengalaman justru kebalikannya. Jika diterapkan secara benar, metodologi ini terbukti sangat bagus untuk pengerjaan ulang (yang disebabkan oleh kesalahan), memastikan kelengkapan, dan memperkuat standar kualitas. Selain itu, Six Sigma dapat membantu mengatasi hal-hal yang baru, unik, dan sulit.
Manfaat mengintegrasikan Six Sigma ke proses pemasaran yaitu mendapatkan informasi yang lebih baik (manajemen berdasarkan fakta) untuk membuat keputusan yang lebih baik. Menggunakan pendekatan yang lebih kuat untuk mengurangi ketidakpastian yang melekat dalam pemasaran kreatif, disiplin dan dinamis. Salah satu cara untuk mempertahankan pertumbuhan dari waktu ke waktu adalah fokus pada “keunggulan” indikator-indikator tujuan yang anda inginkan. Leading indikator merupakan faktor yang mendahului terjadinya hasil yang diinginkan. Leading indikator bisnis melibatkan pengukuran cacat, kegagalan, dan waktu. Keunggulan indikator dapat termasuk ukuran kinerja fungsional seperti Unit Manufacturing Cost (UMC), pengukuran kualitas seperti Defects Per Million Opportunities (DPMO), dan ukuran berdasarkan waktu keandalan seperti Mean Time Between Failure (MTBF). Indikator utama untuk pemasaran meliputi pangsa pasar dan pendapatan metrik kinerja secara umum. Sebuah indikator utama yang kuat adalah kepuasan pelanggan sebelum transaksi penjualannya itu sendiri (seperti kepuasan dengan pelayanan informasi atau bagian iklan). Berbekal pengetahuan ini, pemasaran dapat memeriksa inisiatif dari perspektif yang berbeda. Untuk mendorong dan mempertahankan pertumbuhan, kinerja dan metrik kualitas diperlukan sikap yang proaktif dan bukan reaktif.
Yang harus diingat bahwa sebuah metodologi pemasaran harus memfasilitasi hubungan antara pelanggan, produk, dan keuangan. Persyaratan ini berusaha mencari lingkup tanggung jawab pemasaran yang komprehensif dari awal penawaran, melalui pengembangan penawaran untuk memberikan pengalaman kepada pelanggan. Ruang lingkup yang komprehensif ini melingkupi ruang lingkup bisnis yang strategis, taktis, dan aspek operasional. Ketiga proses dalam menetapkan cara kerja pemasaran yang menghubungkan kawasan strategis, taktis dan operasional dapat dilihat seperti gambar di bawah ini :

Pada lingkungan kerja profesional marketing sehari-hari bukanlah berbasis pada struktur alur kerja DMAIC. Hal yang fundamental dari pemasaran terdiri dari tiga kunci area, yaitu :
1. Strategic area : Proses renewal protofolio
2. Tactical area : proses komersialisasi (komersialisasi produk atau jasa tertentu)
3. Operational area : Setelah manajemen portofolio di selesaikan, sumberdaya operasi ini yang terjun langsung ke lapangan sepanjang siklus hidupnya, tentu saja di seluruh rantai nilai yang ada.

Metode unik Six Sigma untuk proses pemasaran mencakup tiga bidang, antara lain strategic, tactical, dan operational. Metode untuk membantu strategi pemasaran disebut dengan IDEA. Pendekatan untuk pekerjaan taktis disebut UAPL. Serta metode operasional secara langsung disebut dengan LMAD. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing metode tersebut (Clyde M Craveling, dkk. 2006 : 57) :
Lingkungan proses strategi pemasaran memiliki empat tahapan yang jelas, yang dikenal sebagai proses IDEA, yaitu :
1. Identify Markets; Segmentasi, dan kesempatan yang ditawarkan oleh masing-masing segmen tersebut.
2. Define portofolio requirements; alternatif portofolio produk.
3. Evaluate portofolio; alternatif terhadap tingkat kompetitif portofolio yang ditawarkan.
4. Activated; melakukan perangkingan terhadap masing-masing individu dalam proyek komersil.

Lingkungan proses pemasaran taktis memiliki empat tahapan yang berbeda, yang di definisikan sebagai proses UAPL untuk produk atau pelayanan tertentu :
1. Understand; Memahami peluang pasar dan spesifikasi persyaratan pelanggan yang diterjemahkan kedalam produk atau jasa.
2. Analyze; menganalisis preferensi konsumen.
3. Plan; Rencana keterkaitan antara rincian proses rantai nilai (termasuk pemasaran dan penjualan) untuk keberhasilan komunikasi dan peluncuran produk atau jasa.
4. Launch; Menyiapkan produk atau jasa baru dengan kontrol yang ketat terhadap peluncuran produk atau jasa tersebut.

Lingkungan operasional dalam proses pemasaran memiliki empat tahapan yang berbeda. Proses ini disebut LMAD, diantaranya adalah :
1. Launch; Memulai melakukan penawaran pada periode pengenalan produk ke pasar yang disesuaikan dengan kontrol pada proses sebelumnya.
2. Manage; Mengelola penawaran dan proses penjualan.
3. Adapt; Menyesuaikan antara tugas penjualan dan pemasaran serta alat untuk melakukan perubahan.
4. Discontinue; Menghentikan penawaran dengan disiplin, untuk mempertahankan loyalitas merk.
Selanjutnya, proses pemasaran tinggal berpegang teguh pada metode-metode yang disebutkan diatas (IDEA, UAPL, dan LMAD), dan metode tersebut harus dirancang agar bisa melakukan efisiensi, stabilitas, dan yang paling penting terukur oleh Six Sigma.

OK segitu saja dulu pembahasannya mengenai Six Sigma Untuk Proses Pemasaran nya, mudah-mudahan bisa bermanfaat. Hatur Nuhun..

Friday, October 16, 2009

Sepuluh Kaidah Pemasaran Radikal

Pemasaran akhir-akhir ini berubah dengan cepat secepat perubahan teknologi yang terjadi. Oleh karena itu, strategi pemasaran pun harus bisa menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik di lingkungan eksternal maupun internal.
Untuk itu, Sam Hill dan Glenn Rifkin menulis buku yang berjudul radical marketing. Buku ini menyoroti perusahaan-perusahaan besar seperti Harley Davidson, Virgin Atlantic Air Ways, dan Boston Beer karena mengadopsi pendekatan berbeda terhadap pemasaran yang berfokus pada merentangkan sumberdaya yang terbatas, tetap berkontak erat dengan pelanggan, dan menciptakan solusi yang lebih memuaskan bagi kebutuhan pelangga. Bagaimana pemasaran radikal itu di jalankan?? ini lah sepuluh kaidah dari pemasaran radikal tersebut :

1. CEO Harus memiliki fungsi pemasaran. CEO pemasar radikal tidak pernah mendelegasikan tanggung jawab pemasaran. Dalam hal ini, perusahaan memiliki CMO langsung yaitu Chief Marketing Officer untuk langsung bertanggung jawab bersangkutan dengan pemasaran.
2. Pastikan bahwa departemen pemasaran yang dari awalnya kecil dan datar, dan harus dipertahankan tetap kecil dan datar. CEO tidak harus membiarkan lapisan manajemen bertumbuh begitu besar sehingga memperbesar jarak mereka dari pasar.
3. Berhadapanlah dengan yang paling berarti - pelanggan. pemasar radikal menyadari keuntungan yang didapatkan dari interaksi langsung dengan pelanggan.
4. Gunakan riset pasar secara hati-hati. para pemasar radikal lebih menyukai teknik akar rumput.
5. Pekerjaan hanya misionaris yang bergairah, bukan pemasar. Pemasar radikal tidak memiliki pemasar, mereka memiliki misionaris.
6. Cintailah dan hargailah pelanggan anda sebagai individu, bukan sebagai nomor-nomor dalam spreadsheet. Para pemasar radikal mengakui bahwa para pelanggan inti bertanggung jawab uuntuk banyak sekali keberhasilan perusahaan mereka.
7. Ciptakan suatu komunitas pelanggan. Pemasar radikal mendorong pelanggan mereka memikirkan diri mereka sebagai komunitas, dan memikirkan merk sebagai pemersatu komunitas tersebut.
8. Pikirkan kembali bauran pemasaran. Sebagai contoh, pemasar radikal menggunakan iklan direct marketing dengan ciri-ciri kampanye iklan yang singkat dan bersasaran.
9. Perhatikan pendapat umum dan bersainglah dengan para pesaing lebih besar tanpa gagasan pemasaran yang segar dan berbeda. Pemasar radikal, misalnya, membatasi distribusi untuk menciptakan kesetiaan dan komitmen di kalangan distributor dan pelanggan mereka.
10. Setialah terhadap merk. Pemasar radikal obsesif tentang keterpaduan merk, dan mereka terpatok pada mutu.

itulah kesepuluh kaidah dari pemasaran radikal, mudah-mudahan bermanfaat.


Thursday, March 12, 2009

Marketing Mix

Akhirnya saya bisa posting lagi, walaupun koneksi internetnya numpang sama temen hehehehe... melanjutkan postingan yang dulu mengenai manajemen pemasaran, kali ini saya akan posting mengenai marketing mix atau bauran pemasaran. Bauran pemasaran merupakan salah satu bagian dari konsep pemasaran modern, tetapi harus di ingat bahwa pemasaran bukanlah marketing mix.
Menurut Kotler (2005:17) menyatakan bahwa “Bauran Pemasaran (Marketing Mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran”. Berdasarkan definisi tersebut diatas bahwa bauran pemasaran adalah kombinasi beberapa elemen bauran pemasaran untuk memperoleh pasar, pangsa pasar yang lebih besar, posisi bersaing yang kuat dan citra positif pada pelanggan sehingga dapat kita artikan bahwa tujuan pemasaran adalah untuk meningkatkan jumlah pelanggan, meningkatkan hasil penjualan, serta dapat memberikan keuntungan untuk perusahaan dan stakeholdernya.

Konsep marketing mix yang pertama kali dikenalkan oleh Jerome McCarthy mempunyai empat variabel yang biasa dikenal dengan 4P yaitu product, price, promotion, dan place. Berkat Jerome McCarthy lah konsep 4P kemudian dikenal luas oleh masyarakat dan sering menjadi rujukan jika membahas tentang pemasaran. Untuk lebih jelasnya, mengenai strategi bauran pemasaran ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini :



Gambar diatas menunjukkan perusahaan yang mempersiapkan bauran tawaran yang terdiri dari produk, jasa, dan harga serta memanfaatkan bauran promosi yang terdiri dari promosi penjualan, periklanan, tenaga penjualan, humas, surat langsung, pemasaran jarak jauh (telemarketing), dan internet untuk mencapai saluran perdagangan dan pelanggan sasaran. Perusahaan tersebut dapat mengubah harga, banyaknya tenaga pemasaran, dan pengeluaran periklanan dalam jangka pendek. Ia dapat mengembangkan produk baru dan memodifikasi saluran distribusinya hanya dalam jangka panjang. Dengan demikian, perusahaan umumnya membuat lebih sedikit perubahan bauran pemasaran dari periode ke periode dalam jangka pendek dibandingkan jumlah yang mungkin disarankan oleh variabel-variabel keputusan bauran pemasaran.
Oleh karena itu, perusahaan yang menjadi pemenang adalah perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan hemat dan nyaman serta dengan komunikasi yang efektif. Untuk lebih jelas mengenai konsep 4P tersebut, dibawah ini akan dipaparkan satu-persatu mengenai ke empat variabel tersebut.

1. Product (Produk)
produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan di pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk terdiri atas barang, jasa, pengalaman, events, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi dan ide.
Pada dasarnya konsumen membeli manfaat dan nilai dari suatu produk yang ditawarkan bukan membeli barang atau jasa. Penawaran suatu produk dibedakan berdasarkan lima tingkatan seperti dikutip oleh Fandy Tjiptono (1997:96), yaitu :
a. Manfaat Inti (Core Benefit)
Tingkatan pertama atau merupakan tingkatan paling dasar dimana manfaat inti yang sesungguhnya dicari konsumen atau pelanggan ketika mereka membeli.
b. Produk Dasar (Basic Product)
Tingkatan kedua dimana pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk dasar.
c. Produk yang Diharapkan (Expected Product)
Tingkatan ketiga dimana sebuah set atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli.
d. Produk Dengan Nilai Tambah (Augmented Product)
Tingkatan keempat dimana pemasar menyediakan sesuatunya melebihi harapan konsumen.
e. Potensi Produk (Potential Product)
Tingkatan kelima dimana penyedia produk dan jasa mencari sesuatu yang bisa melampaui semua harapan pelanggan untuk menyenangkan pelanggan dan membedakan penawaran mereka dari pesaing-pesaingnya.

2. Price (Harga)
Harga merupakan unsur terpenting dalam bauran pemasaran setelah produk dan merupakan satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan sedangkan unsur-unsur lainnya merupakan biaya saja. Keputusan-keputusan mengenai harga mencakup tingkat harga, potongan harga, keringanan, periode pemasaran, dan rencana iklan yang dibuat oleh produsen.
Penetapan harga merupakan suatu masalah jika perusahaan akan menetapkan harga untuk pertama kalinya. Ini terjadi ketika perusahaan mengembangkan atau memperoleh produk baru, ketika akan memperkenalkan produknya ke saluran distribusi baru atau daerah baru, ketika akan melakukan penawaran atas suatu perjanjian kerja baru. Perusahaan harus memutuskan dimana ia akan mendapatkan produknya berdasarkan mutu dan harga. Perusahaan dapat menempatkan produknya di tengah pasar atau pada tiga tingkat di atasnya atau tiga tingkat di bawahnya.

3. Place (Tempat atau Distribusi)
Sebelum produsen memasarkan produknya, maka sudah ada perencanaan tentang pola distribusi yang akan dilakukan. Disini penting sekali perantara dan pemilihan saluran distribusinya. Perantara ialah sangat penting karena dalam segala hal, mereka lah yang berhubungan langsung dengan konsumen.
Lokasi sering pula disebut sebagai saluran distribusi yaitu suatu perangkat organisasi yang saling tergantung dalam penyedia suatu produk atau jasa untuk digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen atau pengguna bisnis. “Tempat termasuk berbagai aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran”.

4. Promotion (Promosi)
Promosi pada dasarnya adalah bentuk komunikasi pemasaran. “Promosi meliputi semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan produknya kepada pasar sasaran”. Sebagaimana dikutip dari Fandy Tjiptono (1997:219), komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebabkan informasi, mempengaruhi, membujuk dan atau meningkatkan pasar sasaran atau perusahaan dan produknya yang ada di pasar agar konsumen atau pelanggan bersedia menerima, membeli dan loyal kepada produk yang ditawarkan.
Menurut Kotler (2000:658) dalam mengembangkan program periklanan, manajer pemasaran harus selalu memulai dengan mengidentifikasi pasar sasaran dan motif membeli. Ada beberapa konsep dalam komunikasi pemasaran yang kesemuanya mengandung huruf M. Salah satu yang populer adalah konsep 7M yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (1997:218) yang terdiri dari :

  • Mission (Misi) : Apa tujuan yang ingin dicapai dari program promosi yang dilaksanakan.
  • Market Target (Target Pasar) : Apa sasaran dari target pasar atau pasar konsumen.
  • Message (Pesan) : Pesan apa yang harus disampaikan dalam program promosi yang akan dilaksanakan.
  • Media (Saluran Komunikasi) : Media apa yang akan digunakan dalam melaksanakan program promosi.
  • Mix (Bauran Promosi).
  • Money (Metoda Penentuan Anggaran) : Berapa banyak anggaran biaya promosi yang dapat dibelanjakan.
  • Measurement (Pengukuran Efektivitas Promosi) : Bagaimana mengevaluasi hasilnya, apakah penjualan, pertumbuhan pangsa pasar atau ratio biaya terhadap pertumbuhan penjualan.

Bauran komunikasi pemasaran (bauran promosi) terdiri dari lima unsur utama, yaitu (Craven, 2000:350) :

- Advertising (Periklanan)
Semua bentuk penyajian dan promosi non personal atas ide, barang atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu.
- Sales Promotion (Promosi Penjualan)
Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.
- Public Relation (Publisitas/Kehumasan)
Berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.
- Personal Selling (Penjualan Pribadi/Wiraniaga)
Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih, dengan tujuan untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan dan menerima pesanan ataupun melakukan penjualan.
- Direct Marketing (Pemasaran Langsung)
Penggunaan surat, telepon, faximile, e-mail dan alat penghubung non personil lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.


Selain hal yang disebutkan diatas, baru-baru ini ada konsep baru yang muncul dari bauran promosi yaitu Point Of Purchase Communication (POPC) yang merupakan bentuk promosi yang ada di toko atau berupa display dari produk yang berada di etalase atau shelf space tertentu.
Nah, salah satu contoh dari gagalnya menerapkan 4P ini ya yang sering saya keluhkan yaitu Indosatm2. Kenapa saya katakan gagal?? Jadi dalam hal ini pihak indosat tidak memperhatikan secara keseluruhan dari bauran pemasaran yang ada. Mereka hanya fokus pada promosi yang sangat gencar dimana-mana tetapi tidak siap dengan infrastrukturnya, ini bisa dilihat dari tidak siapnya mereka terhadap permintaan yang begitu banyak sehingga sering kali server mereka overload atas permintaan dari konsumen yang menyebabkan terganggunya koneksi internet para pelanggannya. Selain itu, sudah seminggu ini saya mencari-cari voucher isi ulang indosatm2 broom unlimited dan saya tidak menemukannya diseluruh Bandung (BEC dan gerai-gerai indosat lainnya) sehingga menyebabkan tidak seimbangnya diantara bauran pemasaran yang ada (produk, harga, promosi dan tempat) sehingga para pelanggannya kecewa dan termasuk saya, akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke telkomsel flash. sehingga GOOD BYE indosatm2 dan beberapa waktu ini saya sering posting untuk mengeluhkan indosat, inilah salah satu bentuk kekecewaan saya dan kalau boleh meminjam istilahnya Hermawan Kartajaya yaitu sekarang sudah eranya "New Wave Marketing" dengan ciri-cirinya yaitu Digitalization, Globalitation dan Futurisation pelanggan tidak boleh dianggap remeh karena mereka bisa saja melakukan apapun pada produsennya (hal yang baik dan yang buruk bagi produsen tersebut). Jadi keseimbangan diantara bauran pemasaran yang ada sangat penting dalam pemasaran.

Wednesday, March 4, 2009

Gampangnya Jualan di Indonesia

Sebelumnya saya ucapkan dulu Alhamdulillah akhirnya m2 saya bisa konek lagi, setelah dulu saya pernah posting mengenai keluhan saya tentang indosatm2, kekecewaan saya bertambah lagi ketika kemarin saya ga bisa konek selama dua hari. Padahal harusnya kan kepuasan pelanggan itu menjadi nomer satu yah bagi para pelanggannya sesuai dengan postingan saya mengenai customer satisfaction juga kan begitu (hehehe... promosi..).  Tapi ya apapun yang terjadi saya harus bersabar menerimanya dan mungkin ini buah dari kesabaran akhirnya bisa konek lagi jadi saya baru bisa posting lagi sekarang. Ya udah lah cukup curhatnya langsung aja pada bahasan. cekedot.
Jadi gini, sebenarnya saya melihat fenomena-fenomena yang unik di Indonesia ini, sebenarnya dalam segala hal yah kelihatannya. Banyak sekali teori-teori yang dibuat oleh orang-orang ternama dunia dan berhasil diterapkan dengan baik diberbagai negara di belahan dunia ini (diperbuas biar rame). Salah satu contoh adalah six sigma dimana merupakan suatu hal yang fenomenal menurut saya dan berhasil di terapkan dibeberapa perusahaan di berbagai negara tetapi pada kenyataannya di Indonesia sendiri saya ga tau pasti sudah ada yang berhasil menerapkannya secara menyeluruh atau tidak. Hal yang sama juga berlaku untuk Ekonomi dan Perbankan Syariah, padahal kenyataannya Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanya di dunia tapi susah sekali untuk bisa menerapkan Ekonomi dan perbankan syariah secara menyeluruh dan kenyataannya di Eropa dan Amerika ini sudah diterapkan dengan baik.


Terus maksud dari judul ini apa?? Ko dari tadi ga nyambung yah dengan isinya?Emang.. Ini karena saya masih kesal sama m2 hakakakakaka... Jadi begini, walaupun susah sekali menerapkan teori-teori yang bagus di Indonesia ini tetapi untuk masalah jualan, bisnis, usaha, marketing dan sejenisnya sangat gampang sekali menurut saya. Maka dari itu tidak usah berbangga lah bagi orang yang berhasil jualan, bisnis, usaha ataupun marketing di Indonesia ini. Lhoooo kenapa??? Ya memang, karena orang Indonesia itu yang pada dasarnya sangat konsumtif terhadap barang apapun. Benar sodara, sekali lagi TERHADAP BARANG APAPUN. Mau contoh?? Handphone, Laptop, Komputer, Mobil, Motor, Kartu kredit, Asuransi dan lain sebagainya.
Bahkan yang membuat saya terkagum-kagum sekaligus heran dengan menjual kebohongan pun laris manis di Indonesia ini. Tidak sedikit perusahaan atau perorangan yang menjual kebohongan tetapi masih saja laku penjualannya termasuk para politikus yang korupsi, bohong tapi tetap saja banyak sekali yang memilih, itu kan menandakan bahwa dia masih laku menjual kebohongannya. Kita juga bisa lihat dari sisi yang lain, beberapa bulan terakhir banyak sekali aliran-aliran keagamaan yang menyimpang diantaranya ada yang mengaku tuhan, ada yang mengaku nabi dan lain sebagainya tapi tetap laku berjualan dalam artian banyak pengikutnya. Jualan Benda-benda aneh, ajaib dan sebangsanya jangan ditanya lagi, ini sudah pasti laku keras. Contoh yang lagi ramai adalah Ponari, kita analisis dari sisi pemasaran. OK dari sisi segmentasi dan target pasar sudah jelas yaitu kalangan menengah ke bawah dan penduduk sekitarnya. Tapi dari sisi positioning dia memposisikan dirinya sebagai dukun cilik, posisi yang aneh menurut saya tapi mungkin ini nilai jualnya. Kita lihat dari segi Marketing Mix, Produk dari Ponari adalah sudah jelas yaitu jasa pengobatan alternatif tapi ini aneh juga karena sebenarnya konsumen membawa bahan baku utama dari produknya yaitu air dan ponari hanya mencelupkan batunya saja. Kemudian dari sisi Promosi saya rasa hanya dari mulut ke mulut saja ga ada yang lain lagi. Terus dari sisi Place atau Tempat sudah jelas di pelosok desa yang jauh dari kota dan angkutan umum yang lewat ke rumahnya juga saya rasa ga ada (cuma ojek kali). Yang terakhir dari segi harga mungkin ini kelebihannya karena konsumennya bebas melakukan pembayarannya. Selain itu dari sisi pelayanan saya rasa jauh dari kata bisa memuaskan, dengan antrean yang acak-acakan sampai ada yang meninggal terus dari sisi pelayanannya juga tidak ada yang istimewa hanya mencelupkan saja artinya tidak ada komunikasi antara ponari dengna konsumen dan juga melayaninya kadang-kadang sambil maen game di HP nya.
Jadi saya rasa aneh sekali di Indonesia ini, ya bisa dikatakan anomali lah hehehehehe.. Jadi saya rasa tidak terlalu sulit untuk membuka usaha, bisnis, atau pun memasarkan produk di Indonesia, jadi menurut saya ga perlu takut untuk memulai bisnis atau usaha di Indonesia karena bisa dipastikan laku keras ehehehe.. Makanya perusahaan asing sangat suka sekali berjualan di Indonesia, selain karena perizinan yang gampang yaitu tinggal bayar dengan jumlah uang tertentu dan konsumennya juga gampang banget didapatkan. 

Thursday, February 19, 2009

Customer Satisfaction

Sudah lama sekali (satu mingguan lebih) saya tidak posting, banyak sekali halangan sehingga lebih banyak di sibukkan di dunia nyata hehehe..melanjutkan postingan mengenai manajemen pemasaran, kemudian melanjutkan ketidakpuasan saya terhadap salah satu produk indosat, yaitu im2, maka postingan sekarang membicarakan tentang kepuasan pelanggan terutama bagaimana kita dapat mengukur kepuasan pelanggan tersebut. Untuk yang mengambil mata kuliah manajemen pemasaran mungkin tidak akan asing lagi dengan istilah dan pengertiannya, sehingga saya tidak akan menulis mengenai pengertiannya, ya paling dikit aja lah.
Kepuasan dan loyalitas pelanggan seharusnya berbanding lurus, jadi apabila pelanggan merasa terpuaskan biasanya mereka akan menjadi pelanggan yang loyal. Tetapi pada kenyataannya banyak sekali yang berbanding terbalik, perusahaan sudah merasa bisa memuaskan konsumen tetapi kenyataannya konsumen tidak loyal terhadap produknya. Banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut, salah satunya mungkin kesalahan dalam melakukan pengukuran kepuasan pelanggannya. Lalu bagaimana cara melakukan pengukuran kepuasan pelanggan? Baca aja semuanya yah...

Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang hasil perbandingan dari kinerja suatu produk yang diterima dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Nigel Hill (1996) menyebutkan bahwa kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan terhadap penyedia produk / jasa untuk memenuhi atau melebihi harapannya. Selain itu juga, Wilkei menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah tanggapan emosional pelanggan terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan ini menjadi sangat penting karena beberapa hal diantaranya adalah kepuasan pelanggan ini menjadi kunci untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang, penyebab munculnya loyalitas pelanggan, menumbuhkan citra positif perusahaan, dan bentuk keunggulan daya saing yang paling efektif.
Perusahaan dapat mengukur kepuasan pelanggan ini dengan berbagai cara, diantaranya adalah :
1. Sistem Keluhan dan Saran
Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informassi ini memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan masalah.
2. Survei Kepuasan Pelanggan
Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan pelanggan. Industri yang responsif mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelpon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu juga ditanyakan tentang kinerja industri saingannya.
3. Ghost Shopping
Ghost Shopping adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan titik-titik kuat maupun titik-titik lemah yang dialami waktu membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu pelanggan bayangan melaporkan apakah wiraniaga yang menangani produk dari industri.
4. Analisa Kehilangan Pelanggan
Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya), sehingga dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan.

Yah, seperti itu lah teorinya. Tapi memang pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Silahkan saja klik link-link di bawah untuk lebih jelasnya.

Monday, January 19, 2009

Manajemen Pemasaran

Mungkin pembahasan ini sudah banyak yang nunggu yah (Kepedean Gwa)...
Perlu prolog lagi ga? Perasaan dah pada tahu yah pengertian dari manajemen pemasaran, mungkin ini salah satu pengertian yang terbaru dari ama (American Marketing Association) yang terdapat juga pada bukunya Phillip Kotler "Marketing Management 12th Edition" :
"Marketing is an organization function and a set of process for creating, communicating and delivering value to customers and for managing customer relationship in ways that benefit the organization and its stakeholders".
bisa dimengerti maksudnya? oke saya translate dulu deh hehe...
jadi katanya pemasaran adalah salah satu fungsi organisasi yang mempunyai tugas untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengatur hubungan dengan pelanggan yang bertujuan untuk memberikan keuntungan organisasi dan para stakholder (Semua pihak yang terkait). itu kira-kira terjemahannya, masih belum jelas lagi? Baiklah saya akan jelaskan lagi pengertian diatas, baca semuanya yah... Jangan lupa kasi comment.


Jadi begini, diatas dikatakan bahwa pemasaran adalah salah satu dari fungsi organisasi, yang berarti bahwa pemasaran adalah bagian dari organisasi baik laba maupun nirlaba, karena organisasi laba atau nirlaba pasti ada bagian pemasaran di dalamnya. Masih ingat kan fungsi-fungsi organisasi? Ya, yang saya maksud adalah fungsi atau bagian-bagian dari organisasi yaitu SDM, Pemasaran, Operasi atau produksi dan keuangan serta fungsi pendukung lainnya. Kemudian diterangkan juga bahwa tugasnya adalah menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai dari produk. Mungkin ini sudah jelas yah, karena memang yang disampaikan oleh marketing adalah nilai dari produknya (Karena barang yang ga punya nilai ya sampah). Kemudian sudah pasti yah menjaga hubungannya juga dengan para pelanggan, hal ini dikarenakan mencari pelanggan baru jauh lebih sulit dan lebih mahal dari pada mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Serta yang terakhir adalah memberikan keuntungan yang berkelanjutan bagi organisasi dan para stakeholder, hal ini saya rasa sudah begitu jelas yah karena semua organisasi juga membutuhkan penghasilan untuk bisa mempertahankan organisasinya itu sendiri.
Untuk lebih jelas mengenai semuanya, saya sarankan untuk bisa membaca buku wajib di kampus manapun yaitu "Marketing Management" karangan Phillip Kotler, karena selain pembahasannya tuntas dan jelas, sudah banyak edisi yang ada terjemahan bahasa indonesianya, terakhir kalau ga salah yang ada terjemahannya itu edisi ke 12. Disana dibahas komplit dari A ke Z mengenai pemasaran, mulai dari Pengertian, Marketing Mix, STP, lingkungan, sampai pada internet marketingnya. Jadi untuk membuka wawasan mengenai manajemen pemasaran, buku ini sangat disarankan sekali, terutama disarankan oleh saya :D .
Oke, mungkin itu dulu penjelasannya. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai marketing akan saya bahas satu-persatu nanti ke depannya. Ini saya hanya membuka aja biar nanti tinggal di masuk-masukkin di kategorinya masing-masing.