Showing posts with label Filsafat Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Ilmu. Show all posts

Saturday, February 7, 2009

Pohon Pengetahuan Ilmiah (Dari Realitas Ke Konsep)

Melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya mengenai filsafat ilmu, dulu saya pernah posting mengenai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi yang semuanya merupakan dasar dari filsafat ilmu atau bisa saya istilahkan sebagai akar dari pengetahuan ilmiah. Sekarang, saya akan posting yang lebih lengkapnya mengenai Pohon Pengetahuan Ilmiah yang merupakan keseluruhan dari realitas menuju konsep (dari akar sampai puncak).
Ya udah, saya akan mulai dari pengertian pengetahuan dulu yaitu segala hasil tangkapan manusia (rasio dan indera) terhadap objek tentang realitas. Jika ditanyakan apakah realitas itu? Jawabannya adalah jamak. Dalam kesempatan ini pengetahuan digambarkan sebagai suatu pohon yang organis, dengan akar-akarnya adalah realitas (reality) dan puncaknya paradigma-paradigma.


Pembicaraan tentang realitas adalah pembicaraan tentang cabang filsafat ontologi. Secara ringkas realitas itu bisa dianggap sebagai ide, materi, api, tanah, udara, angin dan sebagainya. Pandangan lain menyatakan bahwa realitas itu sebagai yang tetap, sebagai gejala dan sebagainya. Berikut ini saya coba membuat pemahaman tentang pengetahuan umum manusia dan realitas sebagai suatu pohon pengetahuan yang organis. Rincian pohon itu adalah :
1. Realitas.
2. Gejala, Apa saja yang ditangkap manusia.
3. Tanda, Manusia memberikan suatu sign.
4. Simbol, Manusia memberikan makna, arti, dan nilai pada tanda sehingga manusia memiliki pengertian.
5. Istilah, diberikan suatu kata pada simbol tersebut.
6. Pengertian, Pemberian suatu makna dan arti.
7. Pemberian nilai dan norma, Pemberian arti yang lebih subjektif dan bermakna khusus.
8. Konstruk, Membangun suatu pengertian yang lebih menyeluruh.
9. Konsep, Pengertian yang lebih menyeluruh.
10. Proporsisi, Kumpulan beberapa konsep dengan pengertian tertentu dan utuh.
11. Argumentasi, Kumpulan beberapa proporsisi dengan pola berpikir khusus.
12. Hipotesis, Teori yang kebenarannya belum seluruhkan terbuktikan.
13. Teori, Pernyataan yang telah terbuktikan.
14. Dalil, Teori yang kebenarannya sangat luas dan terbuktikan dalam waktu yang lama.
15. Aksioma, Teori yang kebenarannya tak terbantahkan lagi dan dapat dikatakan universal.
16. Paradigma, Suatu konsep yang paling umum dan terdalam untuk melihat dan memahami realitas.

Begitulah kurang lebih yang terangkum dalam pohon pengetahuan ilmiah. Tetapi yang perlu dipahami lebih lanjut adalah hubungan antara pengertian, konstruk, konsep dan proporsisi. Pengertian adalah segala sesuatu yang diberikan oleh pemikiran manusia terhadap suatu objek. Pengertian memiliki sifat yang paling luas, abstrak, maya dan cenderung tidak memiliki batas-batas yang jelas. Nah, untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas, dibutuhkan suatu konstruk. Pengertian manusia kemudian ditata lebih jauh dan disusun sedemikian rupa sehingga terjadi pengertian dengan batas-batas yang jelas, karenanya terjadilah konsep. Sedangkan Proporsisi adalah kumpulan beberapa konsep dan membentuk suatu pengertian tertentu. Nah, dalam metode berpikir ilmiah, materi konsep dan konseptualisasi sangat penting untuk dipahami secara lebih mendalam, termasuk dalam menyusun skripsi, tesis, desertasi atau penelitian, khususnya hubungan antara konsep dengan gejala yang terjadi di lapangan.
Ya, beritulah sebenernya proses para ilmuwan sampai bisa memberikan ilmunya sampai sekarang ini dan sebenarnya semua yang kita lihat juga ada ilmu dan pengetahuannya, tetapi biasanya kalau menurut kita tidak masuk akal ya berarti rasio kita aja yang belum nyampe ke sana. Selain itu, tentu saja semua persepsi berangkat dari background dan pengalaman masing-masing. Sehingga memang sering kali terjadi perbedaan pandangan mengenai suatu hal, dan ini wajar karena dari perbedaan itu lah nanti ilmu-ilmu baru akan muncul kembali. Contohnya, fenomena krisis global yang terjadi sekarang ini tentu saja akan berbeda analisisnya dari seorang ekonom dan seorang ahli hukum, sejarawan dan yang lainnya. Tapi semuanya tidak ada yang salah, karena mereka memandang dari kaca mata mereka masing-masing. Tetapi yang harus di ingat pula bahwa biasanya ilmu science akan mentok ketika sudah bertemu dengan realita yang lebih mantap, seperti Agama. Contohnya? Banyak, misalkan Teori Evolusi manusia dari Darwin yang menyatakan nenek moyang manusia adalah kera, tapi dalam ajaran islam itu tidak benar dan ini pasti orang memilih yang lebih mantap yaitu dari segi Agama. Contoh lain misalkan orang Jepang, Siapa sih yang meragukan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Jepang?? Tapi apa yang terjadi? Mereka masih banyak yang menyembah Matahari, kalau menurut logika atau rasio kita ya tidak masuk akal matahari disembah. Ya, kurang lebih seperti itu lah hehehe...Terus kalau terjadi seperti ini mana yang di pilih? Saya pribadi tentu saja sama dengan kebanyakan orang dan yang orang jepang pilih yaitu agama (tentu saja agama saya : Islam). Alasannya? Alasan saya sederhana, karena ilmuwan atau filusuf sekalipun kalau dilihat dari pohon pengetahuan ilmiah pasti berangkat dari keragu-raguan atau ketidak tahuan tentang suatu hal, tetapi berbeda dengan agama karena Agama berangkat dari Keyakinan. Kalau Anda gimana?? Pilih Yang Mana???

Sunday, January 25, 2009

Aksiologi

Huh...Beneran, serius...Suer deh...Ini yang terakhir dari dasar atau pondasi filsafat. Berarti ini yang terakhir kalinya gwa bikin pusing pembaca, termasuk gwa juga jadinya pusing sendiri hehe..setelah kemarin kita membicarakan tentang ontologi dan epistimologi yang membuat saya teler nulisnya, sekarang bagian terakhir dari rentetan landasan filsafat.
Lalu apa maksudnya Aksiologi ? Jangan menurut saya yah..Menurut si Louis Kattsof aja lah (1992:327) dia mendefinisikan bahwa Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakikat segala sesuatu. Di dunia ini terdapat banyak pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah nilai yang khusus, seperti ekonomi, estetika, etika, filsafat agama dan apistimologi. Estetika berhubungan dengan masalah keindahan, etika berhubungan dengan masalah kebaikan, dan epistimologi berhubungan dengan masalah kebenaran.

Permasalahan tentang "hakikat nilai" dapat di jawab dengan tiga macam cara; orang dapat mengatakan bahwa :
1. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka.
2. Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. pendirian ini dinamakan "objektivisme logis". Akhirnya orang juga dapat mengatakan bahwa
3. Nilai-nilai merupakan unsur objektif yang menyusun kenyataan. Yang demikian ini disebut "objektivisme metafisik".

Baiklah, saya coba sederhanakan saja. Jadi, secara sederhananya aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Nah, dalam hal ini telah terjadi perdebatan panjang antara para filusuf tentang tujuan ilmu pengetahuan. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi yang menekuninya, dan mereka menyatakan bahwa "ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan", sebagaimana mereka mengatakan "seni untuk seni". Sebagian berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah upaya para peneliti menjadikan alat atau jalan untuk menambah kesenangan hidup di dunia ini. Sebagian menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan. Adapun dalam Islam bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dari sekedar tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Karena di balik kehidupan materi ini ada lagi kehidupan yang mereka lalaikan, yakni kehidupan akhirat (QS Ar-Ruum: 6-7), maka tujuan ilmu pengetahuan dalam Islam adalah untuk menggapai Ridlo Allah SWT dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
fuihhhh....dah panjang lebar yah, ya intinya mah aksiologi itu adalah ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar. Ya sebagai contohnya jangan jauh-jauh lah, para koruptor di Negeri kita tercinta ini sebenarnya kan memanfaatkan ilmu pengetahuan di jalan yang tidak benar, klo yang (maaf) kurang ilmu pengetahuannya kan paling juga nyuri ayam, bebek atau yang lainnya lah yang paling juga berapa sih kerugian yang di dapatnya dan bandingkan sodara hukuman yang didapatkannya dengan para koruptor. Tapi yang punya ilmu pengetahuan pasti jauh lebih dapat merugikan, jangan jauh-jauh contohnya kasus BLBI saja merugikan negara berapa Triliyun?? BENAR TRILIYUNAN SODARA!!! bandingkan dengan yang nyuri ayam??Selain itu, kita mungkin sudah menjadi rahasia umum yah bahwa yang bisa mengutak-atik keuangan negara pastinya dia ahli keuangan, yang banyak melanggar hukum sudah pasti yang sangat mengerti hukum (di Indonesia lho yah...). Memang, hidup di dunia ini tidak bisa kalau tanpa uang, bahkan uang bisa dijadikan Tuhan kedua oleh mereka (atau Tuhan yang pertama yah??dan bahkan satu-satunya) di mata mereka? Kan kalau kita liat lagi, latar belakang pekerjaan mereka kan anggota DPR atau gubernur BI yang saya yakin tidak akan kekurangan untuk kehidupan sehari-harinya. Jadi, kalau kita lihat dari hirarki kebutuhan Maslow berarti kan kalau terus-menerus hanya mencari uang (para koruptor) berarti mereka masih terus berkutat di hirarki paling bawah yah (Kebutuhan fisiologi)...Saya rasa kelas mereka sudah seharusnya berada pada hirarki paling atas yaitu aktualisasi diri, jadi menunjukkan kinerja terbaiknya, bukan terus berkutat di hirarki terendah.
Hehehehe... Jadi melenceng gini.. Tenang-tenang...Abisnya kesel sih hehehe... udah ah segitu aja, takut melenceng tambah jauh lagi.

Saturday, January 24, 2009

Epistimologi

Nah lo...Apa lagi nih? Lagi-lagi juga gw baru belajar tentang ini. Dan lagi-lagi juga gw nulis di postingan biar ga lupa hehehhe...jadi kan klo lupa tinggal buka blog gw aja, terus kalau di tulis kaya gini ya mudah-mudahan nempel di gw nya juga lebih lama lagi hehehehe...
Jadi apa Epistimologi ini?? yang pasti sih masih dalam lingkup bahasan filsafat...ya dari hasil belajar seminggu kemarin (walaupun bingung ga ngerti-ngerti) dapat gwa ambil kesimpulannya kalau Epistimologi pada intinya membicarakan tentang sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Berasal dari kata Yunani yaitu episteme, artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan, dan logos artinya juga pengetahuan atau informasi. Jadi dapat dikatakan epistimologi artinya pengetahuan tentang pengetahuan atau adakalanya juga disebut "teori pengetahuan" atau juga adakalanya disebut filsafat pengetahuan. Atau ada juga yang menyebutkan asal-usul, anggapan dasar, tabiat, rentang, kecermatan dll lah.

Ada beberapa aliran yang berbicara tentang Epistimologi, diantaranya dan yang paling populer serta mengalami perdebatan sengit terus-menerus adalah empirisme dan rasionalisme.

Empirisme
Menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indranya. Bapak aliran ini adalah John Lock (1632-1704) dengan teorinya "tabula rasa" yang artinya secara bahasa adalah meja lilin. Kelemahan aliran ini adalah sangat banyak :
1. Indera terbatas ; Benda yang jauh kelihatan kecil.
2. Indera menipu ; Orang yang sedang sakit malaria, gula rasanya pahit apa lagi paria dah pasti pahit lah itu mah khakhakahkahkaha.
3. Terkadang objek yang menipu, seperti ilusi dan patamorgana.
4. Kekurangan terdapat pada indera dan objek sekaligus; indera (dalam hal ini mata) tidak bisa melihat kerbau secara keseluruhan, begitu juga kerbau tidak bisa dilihat secara keseluruhan.

Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menuruta aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini (biasanya) orang mengatakan Rene Descartes (1596-1650), meskipun paham in ijauh sudah ada sebelumnya (Pada masa Yunani kuno). Bagi aliran ini, kekeliruan pada aliran empirisem yang disebabkan kelemahan oleh alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Kendati demikian aliran ini tidak mengingkari kegunaan alat indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indera merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Kemudian bahan tadi dipertimbangkan oleh akal dalam pengalamannya berpikir. Selain dua aliran tadi, kemudian ada satu aliran lagi yang sama-sama populer. Ahmad Tafsir dan Endang Saefuddin Anshari menyebutnya Intuisionisme.

Aliran ini menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek yang kita tangkap itu selalu berubah-ubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya juga selalu berubah-ubah. Bapak aliran ini adalah Hanry Bergson (1859-1941). Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia yaitu intuisi. Kemampuan ini mirip dengan instinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Yang mirip dengan aliran ini adalah iluminasionisme. Menurut Ahmad Tafsir, paham ini dalam Islam disebut dengan teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia mempunyai kesanggupan (bagi hatinya yang bersih) untuk menerima pengetahuan yang langsung dari Tuhan. Kemampuan tersebut dapat diupayakan langsung melalui latihan, yang dalam islam disebut dengan suluk, secara lebih spesifik lagi riyadlah.
Perbedaan pokok dan dasar dari tiga teori epistimologi di atas adalah perbedaan antara teori empirisme dan teori rasionalisme. Empirisme umumnya dapat diidentikan dengan teori korespondensi dan rasionalisme dengan teori koherensi.
Waduh.... cape juga yah nulisnya (Mikirnya lebih cape...) dah malem lagi, mana besok kuliah pagi lagi. dah dulu yah...klo ada yang mau di tambahkan isi komen aja oke hehehehe....

Ontologi

ONTOLOGI?? Makhluk apa lagi nih? Tau lah gwa juga sepintas doang taunya, cuma iseng aja posting biar gwa ga lupa lagi..Nyiapin dulu kopi plus rokok dulu ah, aga berat nih nulisnya. Jadi sebenernya ini adalah landasan atau apa yah? ya bisa disebut juga dasar dari Filsafat ilmu (ato ilmu Filsafat yah??), tau lah...pokonya gitu deh..Ya memang di filsafat kan suka di balik-balik ya kata-katanya, jadi gwa juga belajarnya pusing sendiri. contohnya : " Ga ada ciri itu ciri, ciri itu ga ada ciri", bingung juga yah maksudnya apa (Buat gwa yang masih baru belajar filsafat ini memusingkan banget artinya apa?), pas gwa liat contohnya ternyata gampang dan simpel juga artinya. Pengen tau? Jadi gini, pake contoh aja yah jelasinnya. Misal A, B, C mempunyai ikan mas yang mirip dan ditempatkan pada satu akuarium, kemudian untuk membedakan ketiga ikan tersebut, ikan miliknya si A di gunting ekornya, ikan miliknya si B di gunting mulutnya misalkan yah (kejam juga klo aslinya gini khakhakhak), nah yang punya si C ga ada di apa-apain alias ga ada cirinya. Jadi ciri ikan si C ya yang ga ada cirinya dan ga ada cirinya adalah ciri dari ikan milik si C. Begitu lah kira-kira, contoh lain lagi yang di bolak balik "ada itu tidak ada dan tidak ada itu ada", ga akan dijelasin lah nyari aja dulu yah nanti abis sama nerangin ini, kalau masih bingung juga ya bagus lah..berarti saya berhasil ngeracun ilmu filsafat atau filsafat ilmu pada pembaca wekekeeke.
ya udah, balik lagi aja ke pembahasannya yah...Jadi apa itu Ontologi? Ontologi dalam bahasa latin adalah ontologia, artinya sesuatu yang betul-betul ada. Dalam bahasa yunani artinya ada, atau keberadaan, ont, ontos, logos artinya studi atau ilmu tentang. Jadi Ontologos, artinya kajian tentang hakikat yang ada, atau teori ilmu pengetahuan yang mengungkapkan tentang hakikat segala sesuatu yang ada. (Kamus Filsafat Tim Penulis Rosda, 1995:234).

Tapi, seperti biasanya dalam ilmu filsafat dan juga di filsafat ilmu tidak hanya ada satu pengertian saja dan semuanya bisa dibenarkan (Tergantung dari sudut mana orang melihatnya). Contohnya Wolff yang mendefinisikan ontologi sebagai ilmu tentang yang ada pada umumnya, dan menggunakan "filsafat pertama" sebagai sinonimnya. Metodenya deduktif, dan tujuannya adalah terciptanya suatu sistem kebenaran yang niscaya dan pasti. Prinsip nonkontradiksi, dan prinsip tiada jalan tengah merupakan alatnya.
Husserl membedakan ontologi formal dan ontologi material. keduanya berurusan dengan analisis esensi-esensi. Ontologi formal berurusan dengan esensi formal atau universal. Dan merupakan basis terdalam dan terakhir dari semua ilmu. Ontologi material, yang menggeluti esensi-esensi material atau regional, yang merupakan basis dari ilmu faktual.
Tapi, Luis O. Kattsoff membedakan Ontologi menjadi, Ontologi kuantitatif, Ontologi Kualitatif, dan Ontologi Monistik. Ontologi kuantitatif mempertanyakan apakah "kenyataan itu tunggal atau jamak?" Ontologi kualitatif mempertanyakan "dalam babak terakhir apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?" Ontologi monistik membicarakan bahwa kenyataan itu tunggal adanya, dan seluruh keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat semu belaka. Dewasa ini sistem monistik itu tidaklah umum dianut orang, karena justru perbedaan lah yang merupakan kategori dasar segenap kenyataan yang ada yang tidak dapat disangkal kebenarannya. Tapi ada juga yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu sama hakikatnya. yah begitu lah....pusing yah? sama saya juga pusing menulisnya...ya intinya pokonya ontologi adalah hakikat mengenai yang ada.

Saturday, January 17, 2009

Filsafat Ilmu

Wah aga berat nih bahasannya, mudah-mudahan ga yah..
Sudah imagenya kali yah kalau filusuf (Panggilan para pemikir terutama Filsafat) itu dikatakan tahu segala hal, dalam hal ini saya ga berani menyanggah dan juga membenarkan karena memang filsafat adalah ibunya dari segala ilmu, tapi itu juga bisa dikatakan dulu karena sekarang filsafat juga sudah mulai mengerucut, contohnya Filsafat ekonomi, Filsafat Agama, Filsafat politik dll. Hal ini dikarenakan perkembangan yang semakin pesat diberbagai bidang ilmu yang ada trus pergeseran paradigma aja, yang tadinya Superman (Manusia Super yang tau sgala hal) menjadi Super Team (Berdasarkan kompetensi masing-masing).
Baiklah, saya akan sedikit me-review aja, bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : "Philosophia". Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam bahasa, seperti : "Philosophic" dalam kebudayaan bangsa jerman, Belanda dan Perancis; "Philosophy" dalam bahasa Inggris; "Philosophia" dalam bahasa latin; dan "Falsafah" dalam bahasa Arab. Silahkan baca kelanjutannya untuk lebih jelas.



Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi. Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa arab yaitu "Falsafah" atau juga dari bahasa Yunani yaitu "Philosophia - Philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. dan seorang Filusuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti yang hakiki.
Pengertian Filsafat secara terminologi sangat beragam. Para Filusuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seperti Plato mengatakan bahwa : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada. Sedangkan muridnya Aristoteles mengatakan bahwa : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
Sedangkan Objek Filsafat ada dua, yaitu objek Mataria dan Objek Forma. Objek Materia adalah hampir mirip dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia yang empiris; Filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak. Sedang Objek Forma adalah filsafat tiada lain ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya tentang objek materia filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).
Filsafat Ilmu merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak dapat dilepas dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
* Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
* Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat
lainnya.
* Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
* Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan.
* Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan
itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. (Agraha Suhandi, 1989).
Banyak sekali para Filusuf di Indonesia yang memberikan pandangan-pandangan filsafatnya seperti Hamka, Djalaludin Rahmat, Ismaun, Didi Turmudzi (Saya sendiri sampe bingung mau ngasi rekomendasi buku yang mana). Tapi saya putuskan untuk ngasi rekomendasi karangan Prof. Jujun (dibaca : Yuyun) karena sangat menarik pandangan-pandangannya, seperti pandangannya terhadap konteks manusia dalam pengetahuan, dia bagi menjadi 4 :
1. Tahu di Tahunya Maksudnya adalah ini bisa dikatakan orang alim dalam bahasa islam.
2. Tahu di Tidak Tahunya maksudnya adalah ya tahu diri.
3. Tidak Tahu di Tahunya maksudnya ya sok tau, lo tu ye (klo kata /rif hehe)
4. Tidak tahu di Tidak tahunya maksudnya ya tak lain dan tak bukan adalah bodo katotoloyo
hehehe...kalo kata orang sunda mah "Rupa belegug tapi Bodo" wekekekeke....
Oke deh, dari pada tambah ngaco Soalnya yang gw pake adalah "Filsafat Kabayan" jadi takut tambah ngaco. segitu dulu aja... jangan lupa comment nya.. :P